Dingin
Kepada kamu yang dingin seperti gumpalan es biang, yang baru saja keluar dari kulkas...
Hidup tak selamanya baik. Setiap naik-mu akan selalu ada turun. Bisa saja yang sekarang ini begitu baik, begitu mulus. Tapi... tidak tahu nanti. Kamu bisa saja bercerai dan depresi parah, lalu menyesal tidak memilih aku. Hingga pada saatnya tiba, entah kapan, aku mulai menaruh hati pada yang lain. Dia yang mampu menggubah sunyi ini menjadi senyum, mengukir hati yang patah menjadi pahatan yang indah, yang bisa saja membuat lukaku menjadi guratan-guratan kebahagiaan.
Kamu yang makin dingin dengan segala pesonamu...
Aku tahu bahwa hati selalu saja apa-adanya, sedang logika terus mencari-cari. Segala kekurangan dan kelebihan, kamu hentikan saja di kepala.
Kepada kamu yang mendingin...
Iya aku rindu akan akalku yang pandai menampik, bahwa berhadapan denganmu adalah tidak setara. Aku, bukan lagi siapa-siapa.
0 comments